|
Awalnya, Api Perdana, 24 tahun, gerah setiap kali melihat banyak rekannya yang jauh-jauh membuang devisa ke Singapura cuma untuk membeli sekoper buku terbitan luar negeri edisi terbaru. Tapi dia maklum, perburuan buku bermutu ke negeri jiran terpaksa dilakukan karena sulit membeli buku sejenis di dalam negeri.
Persoalannya beragam. Toko-toko buku konvensional yang menjual buku-buku impor, kata Direktur Utama PT Avevo Dinamika ini, biasanya hanya menyediakan buku-buku terbitan satu tahun sebelumnya. Jika pun ada buku terbaru, koleksinya sangat terbatas. Pilihan lain dengan membeli melalui situs belanja, seperti Amazon (www.amazon.com), sulit dilakukan. Alasannya, Indonesia sudah dikenal dunia sebagai surga pembajak nomor kartu kredit. "Amazon hanya mau menerima kartu kredit tertentu saja," ujar Api. Melihat kondisi itu, bersama teman-temannya di Avevo, yang bergerak di jasa aplikasi Internet, Api berpikir untuk membantu peminat buku Indonesia mendapatkan buku-buku impor bermutu. Cara paling murah tapi belum tentu mudah adalah menjadi "makelar" Amazon. Mulai tahun lalu, Api dan timnya kemudian mempelajari semua peraturan operasional Amazon. Korespondensi juga dilakukan dengan pengelola Amazon untuk mencari format kerja sama yang pas. "Akhirnya, Mei lalu kami bisa menjadi mitra Amazon di Indonesia lewat Juragan Buku," katanya. Meski berjuluk mitra, sesungguhnya tugas Juragan (www.juraganbuku.com) hanya sebagai perantara antara pembeli di Indonesia dan Amazon. Setiap pesanan buku--juga VCD dan DVD--akan diteruskan Juragan ke Amazon. Jika pesanan disetujui, pembeli mengirim uang tunai ke rekening Juragan. Selebihnya, pemesan tinggal menunggu bukunya dikirim langsung via pos atau kurir ke alamatnya. Namun, tugas Juragan tidak berarti selesai sampai di situ. Selain mengambil alih risiko Amazon, Juragan menanggung klaim pembeli. Respons peminat buku ternyata di luar dugaan. Rata-rata setiap hari ada satu pesanan yang masuk. Sering pula mereka mendapat pesanan dalam jumlah besar untuk perpustakaan kampus dan sekolah. "Karena modal awalnya relatif nol, hanya hosting situs di Amerika Serikat, dalam satu minggu pertama sudah balik modal," kata lulusan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia ini. Setelah empat bulan berjalan, prospek yang bagus itu disadari juga oleh pengelola Amazon. Perusahaan e-commerce yang berbasis di Amerika Serikat itu menawarkan penyatuan sistem Juragan dengan Amazon. Tujuannya untuk mempermudah akses gudang data Amazon, juga sistem pembayaran. Sementara ini, menurut Api, Juragan hanya membuka koneksi dengan Amazon Amerika Serikat. Rencananya, dalam waktu dekat, mereka akan membuka akses dengan Amazon Jepang, Prancis, dan Jerman. Tak hanya Amazon yang berminat, sejumlah toko buku konvensional ternyata juga tertarik bekerja sama mengimpor buku lewat Juragan. Toko buku konvensional tertarik karena harga buku yang ditawarkan Juragan relatif "miring". Api memberi perbandingan dengan harga sebuah buku yang pernah disurveinya. Di toko konvensional, buku tersebut dijual seharga Rp 1 juta, sedangkan di Juragan bisa ditebus cuma Rp 600 ribu. Itu pun sudah termasuk ongkos kirim. Perbedaan besar ini ada karena diskon yang cukup besar dari Amazon, 35-40 persen untuk satu buku. Tapi, dia mengakui, untuk buku yang masuk kategori best-seller, perbedaan harga yang ditawarkan dan juga margin yang mereka dapatkan tidak terlalu besar. Berdasarkan pengalaman, jenis buku yang laris dipesan adalah buku-buku yang diskonnya besar. Biasanya adalah buku-buku praktis (seperti cara menjahit), teknologi informasi, ekonomi, dan lingkungan. Sedangkan kategori yang kurang peminat adalah buku-buku arsitektur dan sastra. Api dan tim Avevo tidak takut bisnis mereka akan rusak jika kelak kartu kredit Indonesia bisa diterima Amazon. Sebab, dasar bisnis yang dikembangkan adalah memberi bantuan dan jaminan kepada pembeli buku. "Pembeli tahu harus menghubungi siapa kalau ada masalah dengan pesanan. Selain itu, JuraganBuku.com melayani pasar korporat dan lebih mengutamakan service" ujarnya mantap. Disadur dari Harian Tempo, Edisi Minggu, 8 Oktober 2006 Artikel online dapat dilihat di: http://www.korantempo.com/korantempo/2006/10/08/Buku/krn,20061008,19.id.html |